Catatan Perjalanan
ADVENTURE WITH MAPASADHA 2007
21
Agustus 2007 @ Bandung
deui’
Jam
dinding sudah menunjukkan pukul 00:02 hari berganti dan waktu terus saja
bergulir tanpa mau menungguku tuk sedikit menikmati hari ini. Kurang lebih
sebulan aku meninggalkan segala bentuk urusan duniawi perkuliahan, dan mulai
besok aku akan mulai tuk menyapanya lagi. Ada sedikit rasa segan yang
menghapiri tubuhku, aku sadar bahwa sebenarnya aku sedikit kurang percaya diri
dengan rutinitas ini lagi, mungkin ini disebabkan karena salah satu mata kuliah
yang paling aku benci akhirnya berakhir dengan nilai yang sungguh mengesankan,
“ D ” ditambah lagi dengan bahan Tugas akhir yang sungguh membuatku merasa “ilang
piling”. Akhirnya pada malam ini, dini hari yang sepi aku memutuskan untuk
berbagi kisah perjalananku selama satu bulan terakhir.
Tanggal 20 Juli 2007 tiga orang dari
Mapasadha bergerak dari Yogyakarta menuju Bandung
dengan misi eksplorasi Jawa Barat. Rencananya mereka ingin caving di kawasan
Citatah, tepatnya di Saghyang Lawang dan naik gunung Ciremai. Saat itu aku berencana
menemani mereka, kebetulan aku sedang punya waktu luang yang sangaaattt banyak
(lagi liburan) tapi kenapa cuman aku yang bisa ikut ya? karena lagi liburan,
semuanya lagi pada pulang.
Sabtu,
21 Juli 2007
Sekitar pukul 10.00 aku menjemput teman-teman
Mapasadha di stasiun Kiaracondong. Berhubung di sekre lagi tidak ada orang dan
motor, akhirnya dengan jiwa yang teguh aku menuju stasiun dianter sama mba Nila
yang baik hati, mba kost yang sudah menjadi ibu RT kosan, aku pun sampai di
stasiun sekitar pukul 10.30 Ternyata kereta agak sedikit terlambat dan beberapa
menit kemudian KA Kahuripan, kereta kesayanganku yang telah menemaniku tuk
menghubungkan Bandung-Jogja pun datang. Tiga orang yang sosoknya tampak dari
kejauhan sambil mengangkat carrier di punggungnya, Mbelek, Tholo dan Ngomple
menapakkan kaki di stasiun Kiaracondong. Mbelek yang emang memiliki wajah
eksotis khas Papua sangat menarik perhatian orang-orang di stasiun. Maka
dimulailah perjalanan tiga sekawan Mapasadha di Jawa Barat.
Hari ini dilewati dengan mempersiapkan
keberangkatan untuk besok hari. Kawan-kawan Mapasadha ingin sekali caving di
Saghyang Lawang, tadinya karena mereka mau sekalian manjat di tebing 48 maka
ingin caving disana, yang notabene memang memiliki lokasi yang cukup berdekatan. Ternyata mereka
tidak jadi manjat karena kekurangan personil untuk membawa peralatan. Karena
itu aku sempat menawarkan untuk caving di daerah sukabumi saja, sebab kawasan
gua disana jauh lebih menarik sebab ada sungai bawah tanahnya juga, dibandingkan
dengan Saghyang Lawang yang jenis guanya adalah gua fosil dan sudah banyak yang
tertutup karena aktivitas penambangan baru marmer. Tapi mereka tetap ingin
caving di Citatah dan dengan senang hati aku mengantarkan mereka. Perjalanan
besok akan ditemani juga oleh dua orang personil dari KMPA ITB, Baim dan Cus
Minggu,
22 Juli 2007
Setelah persiapan dari malam hari sampai
pagi hari menjelang siang, akhirnya rampung juga dan siap berangkat. Baim dan
Cus agak terlambat datang karena mereka ketiduran di angkot Dayeuh Kolot.
Sekitar pukul 13.30 akhirnya kami ber-enamberangkat menuju Terminal Lw.
Panjang. Di terminal terjadi kejadian yang cukup menyebalkan. Ongkos yang
diminta adalah Rp.7000 padahal tarif sebenarnya hanya Rp.3000 untuk bis
ekonomi. “Sialan..!!” pikirku. Akhirnya karena waktu yang sudah mempet
(menjelang sore) aku nego harga Rp.5000 Kami pun naik ke bis dan menuju
Citatah. Kira2 pukul 16.00 kami sampai di Citatah dan naik ojeg menuju lokasi
gua. Harga ojeg Rp.8000 sampai ke Saghyang Lawang dengan beban, dan bila tanpa
beban Rp 6000. Setelah sedikit berbicara dengan penduduk Saghyang Lawang kami
mencari lokasi camp. Sebenarnya bila kami tiba di lokasi agak siang, maka akan
dilakukan survey permukaan mulut gua, namun karena saat itu hari semakin beranjak
gelap, dengan suara binatang malam kerap menemani, kami pun memutuskan untuk
mendirikan tenda dan mulai memasak makan malam. Sebuah flysheet merah khas
Mapasadha dan sebuah doom milik KMPA ITB berdiri diatas kebun kunyit yang
belakangan diketahui setelah meratakan tanah, ternyata buanyak sekali kunyit
yang bersembunyi di tanah. Ditemani suara radio Astacala, kami pun melewati
malam ini dengan sempurna.
Senin,
23 Juli 2007……..
Saat
ini dini hari dihari Kamis, 23 Agustus 2007
Sebulan yang lalu, ditanggal yang sama
namun diwaktu yang sedikit berbeda, aku bersama dengan kawan-kawan dari
Mapasadha dan KMPA ITB sedang berada di camp dan melakukan aktivitas dipagi
hari, minum kopi hangat, merokok, nye-nack, mendengarkan radio dan sesekali
kami tertawa lepas sambil memandang dikejauhan bukit kapur yang sedang
ditambang… Pagi itu, kami cukup bersantai, setelah cukup bersantai akhirnya
kami melakukan tugas masing-masing…Saat itu aku dan ketua rombongan Mapasadha,
Ngomple, mengunjungi rumah Pak Herman (mantan ketua RW) untuk meminta izin
(sebelumnya kami telah meminta izin pada ketua RW yang baru)memakai tempat
untuk nge-camp dan sekalian sedikit bersilaturahmi dan bertanya mengenai
lokasi-lokasi gua yang belum diketahui. Dari sana kami memperoleh informasi bahwa ada satu
gua yang bernama “si jimat”, dimana gua tersebut adalah gua vertikal yang
keberadaannya mistis. Sering kali gua tersebut terlihat dan untuk beberapa
waktu tidak dapat ditemukan. Pernah ada beberapa orang yang ingin memasuki gua
tersebut dan meminta bantuan Pak Herman untuk mengantarkan ke lokasi sehubungan
karena Pak Herman mengetahui lokasi gua tersebut, namun saat itu gua tersebut
tidak dapat ditemukan. Setelah cukup puas bertanya dan merasa tidak enak
sendiri karena Pak Herman saat itu lagi cukup sibuk bergotong royong dengan
penduduk desa yang lain membangun sebuah bangunan, entah bangunan apa, kami tak
sempat bertanya, mungkin juga tidak tertarik untuk menanyakannya, akhirnya kami
pamit dan kembali ke camp.
Pembagian tugas dimulai, aku dan Ngomple
melakukan survey mulut gua di daerah sekitar bukit penambangan, Mbelek dan Cus
mencari dibagian yang berlawanan arah, sedangkan Tholo dan Baim bertugas jaga
camp. Pukul 14.00 adalah waktu berkumpul kembali. Jam sudah menunjukkan pukul
11.00, setelah cukup menyiapkan perbekalan, tim survey pun berangkat.
Saat berjalan lurus terus ke selatan, kami
bertemu dengan pos penjagaan dan bertanyalah kami mengenai yang kami cari,
lumayan ternyata penjaga pos mengetahui sesuatu dan memberitahu letak posisi
gua yang ada disekitar sana. Dengan gegap gempita kami berjalan menyusuri jalan proyek yang cukup besar,
gersang dan terik panans matahari tak bosan-bosannya menemani jejak langkah
kami. Dua puluh menit, tiga puluh menit, sejam pun berlalu…..kami telah
berputar putar, menyisiri daerah yang dikatakan penjaga pos, melakukan analisis
medan, naik ke bukit dan meneropong melalui binouquler yang kami bawa…hasilnya
kami menemukan sesuatu yang patut dicurigai…tapi setelah berdiskusi sedikit dan
menganalisa dari bawah dan mendekat kami sepakat bahwa itu hanya crak. Nihil
dan negative. Hari semakin panas dan kering kurasakan disaluran tenggorokanku,
sebotol air 600 ml telah tinggal beberapa tegukan saja, membuatku cukup malas
untuk bergerak tapi tidak menyuruh kakiku untuk berhenti berjalan…dan kami
menemukan ladang tomat yang sangat maniss…hmmmmm…Waktu sekitar pukul 13.00 kami
memutuskan untuk melihat “gua sigai delapan” yang artinya tangga delapan.
Kebetulan sebulan yang lalu aku baru dari sana, jadi untuk menuju lokasi tersebut sudah pasti masih ada dalam memori otakku
yang tak seberapa ini. Sampai di mulut gua sigai delapan kami tidak berlama
lama disana, beberapa saat setelah melihat lihat kami beranjak dan langsung
menuju camp, ditengah jalan kami bertemu dengan seseorang bapak separuh baya
yang hendak ke kebun. Orang tersebut terlihat sangat familiar buatku, ahaa…!!!Itu kan Pak
Herman..!!! Waktu itu Ngomple tampak agak cuek, dan aku berusaha bersikap ramah
dengan tersenyum, lalu ia juga tersenyum dan bertanya. Pertanyaannya aku sudah
tidak begitu ingat, tapi dari sana
berbuntut sebuah ajakan untuk mengajak kami melihat gua yang ada di dekat
kebunnya. Dan mungkin karena melihat kami telah turun, akhirnya tawaran itu
diberikan hingga pukul 20.00 dimana ia masih berada di kebun, katanya bila
sudah berada di lokasi kebun yang sudah ia jelaskan sebelumnya, cukup panggil
saja. Karena pukul 14.00 kami sudah harus berada di camp sedangkan
saat itu sudah pukul 14.00 kami pun membuat janji dengan “Pak Herman itu” akan
datang sebelum jam 08.00 malam disana.
Pukul 14.10 kami tiba di camp, ternyata
Mbelek dan Cus sudah sampai deluan. Setelah beristirahat dan mengisi perut dan
dahaga, kami saling bertukar informasi hasil yang kami dapatkan. Mbelek dan Cus
tidak mendapatkan yang dicari, “gua cicopet”, setelah makan siang kami kembali
membagi-bagi tugas. Kali ini aku dan Tholo bertugas mencari “Pak Herman” di
kebun dan menemukan lokasi gua yang dimaksud. Ngomple dan mbelek menge-set
peralatan SRT. Cus dan Baim ngapain ya??
Sekitar pukul 16.00 aku dan Tholo bergerak
menuju lokasi yang dimaksud, target operasi adalah kebun “Pak Herman” dan tentu
saja “Pak Herman”…!!!melewati daerah yang dimaksud….jalan terus dan melewati
daerah tambang….Di lokasi sekitar daerah yang “mirip kebun” itu aku mencoba
memanggil si target operasi, “Pak….Pak Hermaann…!!!” (hehehe…manggilnya gk niat
banget) disamping itu Tholo nampak tidak sabar berlama lama di satu tempat dan
akhirnya kami terus bergerak menuruni bukit berharap bertemu dengan “Pak
Herman” atau siapapunlah yang berbentuk manusia. Setelah menuruni bukit tambang
kami sampai di “kolam” disana ada dua orang Bapak yang dari kejauhan kami
berharap salah satunya adalah “Pak Herman” semakin mendekat dan
mendekat….kecewa….ternyata dari kedua orang itu bukanlah “Pak Herman” dan
mereka tidak tahu menahu dimana kebun Pak Herman, mereka juga tidak tahu apakah
disekitar situ ada gua atau tidak. Akhirnya karena hari sudah mulai gelap kami
pun bertanya jalan menuju desa Saghyang Lawang yang lain selain yang telah kami
lewati tadi, sebab Tholo emoh melewati jalan yang sama. Jiwa adventure Tholo
emang oke, aku suka gaya
lu..!!! Tapi berhubung saat itu aku lagi didera ngantuk sangaaattt….sebenarnya
aku sedikit malas untuk bertualang mencari jalan lain. Pengennya mencari tempat
yang agak datar dan sedikit luas lalu merebahkan tubuh dan memejamkan mata
sejenak. Tapi disepanjang jalan yang kami lewati, tempat seperti itu gk ada!
Cukup jauh sudah kami memutari bukit yang tadi kami turunin, bukit itu tampak
jauh dipisahkan oleh sebuah lembah. Kami terus berjalan dan tiba-tiba Tholo
bertanya “Nie, bawa duit khan?” Yoi…aku tau maksudmu Thol..!!!!dalam pikiranku
juga sama…adalah kami keluar di jalan raya sebelum desa Saghyang Lawang. Naik
ojeq adalah pemikiran yang muncul. Kebetulan saat itu ada 20 rb di kantong,
jadi saat itu keadaan kami berdua cukup “aman” Lama menyusuri sawah dan ladang
dimana tak satupun manusia yang tampak, akhirnya kami melihat sesuatu yang kami
harapkan..atap rumah…(dan rumahnya juga pastinya…kwakakaaaa..dan penghuninya
juga dongg…) Setelah bertanya arah kami jalan lagi dan tidak sampai 5 menit aku
merasa familiar dengan daerah ini…waaahhhh…..ternyata kami telah sampai di desa
Saghyang Lawang, tepat di dekat mesjid di dekat warung. Dari sana menuju camp
hanya sekitar 3 menit gk perlu naek ojek…Heheheheheeee….akhirnya sampai juga di
camp setelah mengitari satu bukit.
Malam sudah cukup menyapa kita dan ketua
rombongan memutuskan untuk memasuki gua horizontal yang bernama “gua cikaracak”
dan “gua lalai” kedua gua tersebut telah diketahui keberadaannya dari survey
permukaan sebelumnya. Ketiga Mapasadha’ers ditemani Baim melakukan penelusuran.
Aku dan Cus melakukan beberapa hal di camp. Merapikan camp, memperbaiki tenda,
mengambil air, memasak makan malam untuk kami ber-6 dan setelah makan, kami pun
tidur…Kalau tidak salah, sekitar jam 01.00 tim penelusuran gua kembali ke camp.
Selasa,
24 Juli 2007
Pagi hari yang hampir terlewatkan, aku
bangun sekitar pukul 09.00 tim dapur sudah mulai memasak, ngarokok dan minum kopi.
Hari ini kami berencana untuk turun ke gua sigai delapan, namun karena kemarin
aku dan Tholo tidak berhasil menemukan gua yang kami cari, akhirnya aku dan
Tholo menuju rumah pak Herman dengan maksud hati ingin membuat janji lagi
begitu. Disana seperti biasa Pak Herman dan kawan-kawan lagi bergotong royong
membangun rumah…sewaktu ia mendekat, aku dengan spontan bertanya dan laporan
(weeks..!!) “ Pak, kemarin tidak ketemu guanya..!!” Dengan wajah yang sedikit
dikerutkan Pak Herman menatapku. O..oo..ww… something weird..!!! Dengan tangkas
dan cekatan Tholo pun mengambil alih pembicaraan. Pak Herman yang tadinya
berkerut melihat aku, akhirnya perlahan melupakan kejadian tadi dan mencoba
memberikan informasi yang ditanya oleh Tholo secara bertubi-tubu (huahahahaaa….aga
berlebihan nich..tapi kan
jadi dramatis yoo??) Lalu setelah melihat lihat sekeliling dan mengamati
kawan-kawan Pak Herman yang sedang bergotong royong itu, aku pun sadar dan
dengan cepat menyimpulkan bahwa: “wajah mereka semua mirip…!!!” wajah laki-laki
paruh baya di desa ini semua nya mirip dengan Pak Herman..!!!(Tholo pun
sependapat) dan akhirnya aku sadar bahwa “Pak Herman” yang kemarin bukanlah Pak
Herman yang ini. Sial…!!!pantas saja Pak Herman asli ini bingung waktu aku
dengan PD-nya bertanya. Maluuuuu….hikkss……tapi untung Tholo bisa mengambil hati
Pak Herman, entah pake rayuan apa sampai Pak Herman menawarkan diri hari itu
untuk mengantarkan Tholo ke lokasi mulut gua yang dekat tambang dan esok hari
akan mengantarkan Tholo ke mulut gua “si jimat” Waawww…..Tholo….pesonamu
sunggguh menggugah hati Pak Herman…!!! Setelah membeli se-cup es krim dari
penjual es krim yang lagi nongkrong disana, Tholo bersama Pak Herman menuju
lokasi gua yang dekat tambang, dan aku kembali ke camp, packing dan persiapan
untuk turun.
Hhhmmmm….lupa jam berapa kami bergerak
menuju mulut gua, tapi yang jelas saat itu siang hari menjelang sore. Tiga
tackle bag membawa semua peralatan tempur. Dan setelah berjalan menanjak kira2
15 menit, kami pun sampai di jalur yang sangat terjal. Jalan menuju mulut gua
memang sangat terjal, kondisi kemiringan hingga sekitar 80˚, tanah pijakan
tanpa akar dan batuan kokoh…tanpa banyak tumbuhan yang cukup kuat untuk
pegangan. Ngomple selaku leader membuat lintasan. Kira-kira akan dibuat 3 pitch
dan menghabiskan kalo tidak salah 6 atau 8 webbing. Pitch 1 jadi aku turun dan
disusul oleh baim. Tas kuning di transfer dan diletakkan di sampingku, aku
duduk selagi menunggu lintasan pitch 3 selesai dibuat. Baim turun ke pitch 2
berdiri dibawahku sambil menunggu lintasan pitch 3. Saat itu aku lagi duduk
bersama tackle bag kuning dan disamping kiriku tepat adalah jurang yang
ditutupi oleh tumbuh-tumbuhan perdu. Aku bermaksud mentransfer tacle bag ke
Baim, maka bermaksud pindah selangkah kearah tebing, dimana webbing dipasang
(menjauhi jurang) seketika saat mengangkat tackle bag dengan tangan kanan dan
tangan kiri memegang tebing melalui lubang tembus yang ada, aku melakukan
sedikit ayunan ke depan dan ….. blasss…. Lubang tembus yang kupegang pecah,
dengan berat tackle bag dan gaya
ayunan tadi aku terhempas ke belakang, terhempas ke jurang bersama tackle bag
yang masih kupegang. Dengan spontan aku berkata “Eeh jatuh…eh jatuh…!!!”
Mungkin karena kejadian yang berlangsung begitu cepat aku tidak sempat untuk
berteriak. Aku terjatuh kejurang dengan posisi terperosok dengan kaki dibawah.
Aku terperosok dengan kecepatan cukup konstan dan kecepatan sedikit diperlambat
oleh gesekan badanku dengan tebing dan tumbuhan-tubuhan perdu yang kulewati,
namun aku sadar kecepatanku terperosok jatuh tidak melambat, tackle bag yang
kupegang kurasa nyangkut dan seketika aku langsung melepaskan peganganku. Tackle
bag berhenti meluncur, namun badanku terus meluncur kebawah…otakku mencoba
untuk tenang dan berpikir bagaimana caranya untuk berhenti meluncur, aku
mencoba memegang apapun yang mungkin dapat kupegang, namun sia-sia, perdu-perdu
itu terlalu lemah dan kecepatanku merosot tidak memungkinkanku untuk berhenti
bila hanya memegang perdu. TIba-tiba aku merasa kakiku nyangkut dan badanku
sedikit terhenti, haaaa…!!! batang pohon..!!!sebelum tubuhku kembali jatuh,
tanganku dengan cepat menggapai bantang pohon tersebut dan membuat posisiku
mantap untuk tidak meluncur lagi. Sesaat aku melihat sedikit kebawah dan
wow…ternyata setelah batang pohon yang kupegang adalah “plong..!!” Tanpa ingin
melihat lebih lama, aku memanjat naik dan kembali ke jalur yang
benar..huaahhh….Tholo bergegas mendekatiku dan bertanya “gk apa-apa kan?" “gk ada yang patah
koq” kujawab dengan banyak rasa syukur atas kemujuranku tadi. Langsung aku
teringat akan tackle bag dan memberitahu bahwa tackle bag terjatuh bersamaku.
Mbelek dan Tholo melakukan penyelamatan tackle bag selagi aku mencoba
menenangkan jantungku dan mencoba menghirup oksigen yang banyak. Kata Ngomple,
aku jatuh ada sekitar 25 meter sedangkan tackle bag jatuh sekitar 15 meter dan
menghancurkan game boy milik Tholo yang ada di dalamnya. Sory ya pren… Beberapa
saat setelah aku cukup tenang, Baim bertanya dengan polosnya, “Eh..tadi kok
bisa nyangkut sich..?”
Oke, shock theraphynya gk usah lama-lama,
leader sudah mulai beranjak lagi menuju mulut gua yang sudah dekat. Akhirnya
kami semua sampai di mulut gua sigai delapan. Gua sigai delapan memiliki dua
entrance yang dapat dimasuki, entrance pertama adalah entrance yang agak
nge-slape, dapat dimasuki tanpa menggunakan alat bantu hingga pada sebuah teras
dimana terhubung ke entrance ke dua yang vertikal. Belakangan diketahui ada dua
entrance lain untuk gua ini, namun kami tidak dapat mencapainya sebab bila
hendak mencapainya harus melewati jurang tebing dulu.
Setelah bongkar-bongkar alat dan mengamati
anchor-anchor, rigging man, Ngomple turun, disusul oleh ku, Cus, Tholo dan
Mbelek. Baim tidak ikut turun berhubung tidak ada SRT set. Dari dasar gua,
berjalan sekitar 20 meter terdapat pitch 2. Lintasan kembali dipasang dan
akhirnya Ngomple, aku, Cus, Tholo dan Mbelek sampai di dasar pitch 2.
Sebelumnya, aku dan Ngomple sudah nge-cek ternyata gua tersebut mentok, tapi
supaya yang lain tidak turun semangatnya, saat Tholo bertanya apakah gua nya
mentok, Ngomple pun menjawab “urung..” Setelah sekitar 20 menit kami kumpul di
bawah, ngobrol dan nye-nack, Tholo berinisiatif untuk langsung jalan setelah
mem-pack alat dan membawanya diikuti oleh Cus dan Mbelek. Setelah beberapa saat
aku dan Ngomple nunggu (tidak ikut jalan) mereka kembali dan Tholo sadar kalo
sudah dikerjain. Mutung deh….langsung naek ke atas dan terdengar “ Huh,
dikerjain toh…ya toh bilang supaya gk usah bawa alat..”(kira-kira seperti itu
kali yaa??) Ternyata Tholo beneran mutung banget, dia naek ampe TOP dan lupa
nungguin si Cus naek, padahal Cus kan
baru pertama masuk gua vertikal dan dilintasan itu banyak deviasi dan padding.
Ngomple pun mulai ngomel. Tadinya dah pengen naek juga, tapi berhubung Ngomple
dah kebelet boker, jadi dia naek deluan dan sedikit dibawah anchor pitch 2,
tiba-tiba dia misah misuh…”asuu..!!” aku sama mbelek liat-liatan aja…”ada apa
yaa???” apa karena dah ada yang keluar..???(weekksss…!!!) dan setelah kami
menganalisa dari bawah…kami pun tahu apa sebabnya si Ngomple ngamuk di
lintasan…Setelah rope free, aku pun naek sambil membawa satu buah tackle bag
berisi peralatan, lumayan menambah berat badan saat ascending, badan rasanya
capeek banget karena kurang tidur, power terasa terkuras habis, ascending dengan
SRT cukup melelahkan dan membuat ngos-ngosan setelah melewati deviasi dan
mencapai TOP pitch 2 dengan semangat bulan aku meneruskan perjalananku
ascending di pitch 1. Lantas aku kembali merasakan loss power dan rasa capek
dan malas memikirkan masih ada dua deviasi berturutan dengan sudut yang cukup
patah didekat mulut gua, aku pun mulai hitung-hitungan tenaga. Kalau aku terus
naek, pasti bisa cuman agak lama dan kondisi psikologiku sudah mulai malas
karena tahu ada pintu jalan pintas melalui entrance 1. Akhirnya logikaku
mengalahkan egoku untuk mengalahkan pitch 1 secara SRT-an, akhirnya kuputuskan
setelah bertemu teras yang menghubungkan entrance 1 dan 2, akupun melepaskan
ascender yang terpasang di badanku dan berjalan ke luar….sampai deh….Beberapa
menit berlalu akhirnya Mbelek keluar juga dari gua setelah men-cleaning
lintasan dan kami ber-6 makan malam mie bersama sozzis. Beres-beres dan
nge-check list alat, trus packing dan kembali ke camp, masak dan makan lagi
trus bobok sampai siang…!!!
Rabu
25 Juli 2007…..
Beberapa
jam telah berlalu dari dini hari yang sunyi, saat ini masih 23 Agustus 2008 di
hadapanku masih komputerku, “Zentaku”, ditemani suara mp3 dari Ratu, aku
kembali menerukan kisah perjalananku…
Kami semua bangun agak siang, kami di
bangunkan oleh panasnya tenda yang kami tempati yang sudah mulai menjadi tempat
sauna. Huaahhh panasss…..seperti yang diketahui bahwa daerah ini memang
gersang, dan agak terbuka. Mengumpulkan nyawa saat bangun tidur dan masak-masak
makan siang…Baim dan Cus saat itu sudah packing dan siap kembali ke Bandung. Mereka mendapat
instruksi untuk segera kembali ke secretariat mereka sambil membawa peralatan
yang mereka bawa sebelumnya. Alat yang mereka bawa ternyata akan digunakan oleh
divisi panjat esok hari. Mereka tampak agak terburu-buru karena seharusnya alat
tersebut harus sudah sampai di KMPA ITB kemarin malam, akhirnya setelah rampung
packing tanpa sempat sarapan mereka berpamitan dan meninggalkan camp. Tholo
yang waktu itu sudah janjian dengan Pak Herman bergegas menuju rumah Pak
Herman, waktu itu kira-kira pukul 11.00 Beberapa saat kemudian, Tholo kembali
dan membawa berita bahwa Pak Herman lagi ada urusan, jadi ia akan kembali lagi
kesana pukul 13.00 Setelah makan siang dan tak terasa sudah pukul 13.30 Tholo
dan aku ke rumah Pak Herman lagi dan disana kami bertemu dengan Pak Herman.
Berharap banyak dan membayangkan gua si jimat dalam kepala kami. Ternyata
kenyataan tak seindah harapan kami, Pak Herman mendadak harus menjemput
neneknya sehingga pada hari itu Pak Herman tidak dapat memenuhi janjinya.
Terlihat raut wajah yang merasa bersalah dari bapak separuh baya itu, dan
berharap kami masih cukup lama di sana
sehingga mungkin dia bisa punya waktu yang lain untuk mengantarkan kami. Tapi
kawan-kawan dari Mapasadha sudah punya jadwal sendiri dan kami tidak dapat
begitu berlama-lama di desa ini. Setelah mendiskusikan kondisi yang ada, kami
putuskan untuk masuk gua yang ditunjukkan oleh Pak Herman ke Tholo kemarin, dan
besoknya kembali ke Bandung. Pergerakan dilakukan sekitar pukul 19.00. Ternyata gua yang kami tuju adalah
“sesuatu yang mencurigakan” yang kami (aku dan Ngomple) simpulkan adalah crak
pada saat survey permukaan. Dan memang benar, yang kami lihat adalah crak, tapi
dengan sedikit berjalan beberapa langkah memutar, ditemukan mulut gua yang
lumayan besar. Mulut gua memang tersembunyi. Kami berempat masuk dan setelah
beberapa menit menelusuri gua, diputuskan bahwa gua tersebut mentok. Terdapat
sebuah celah sempit yang entah kemana ia terhubung, namun karena celah yang
sangat sempit, kami tidak dapat menelusurinya. Setelah cukup beristirahat
(sebenarnya tidak capek), nye-nack dan ngobrol, kamipun pulang dan kembali ke
camp.
Kamis,
26 Juli 2007
Malam berganti pagi dan kami melanjutkan
jadwal yang telah kami miliki. Setelah makan, camp kami
bongkar, packing dan membakar sampah-sampah. Hari waktu itu sudah menjelang
siang, dan kami pun siap bergerak menuju pos penjaga di daerah dekat tambang,
disana kami akan menumpang pada sebuah truck yang memang sering dijadikan
tumpangan oleh para pekerja maupun penduduk yang melewati daerah tersebut.
Sebelumnya aku dan Tholo sudah berpamitan ke Pak Herman yang saat itu tidak
dapat kami temui. Di pos penjagaan terdapat dua orang pekerja, aku tidak begitu
memperhatikan dan tidak banyak bertanya saat itu. Tholo nampak sangat antusias
ngobrol, bertanya dan bercerita dengan kedua bapak itu. Banyak cerita yang
sudah ia dapatkan, bila ingin cerita yang lebih lengkap silahkan hubungi Tholo.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 dengan mata yang cukup berat
aku pun masuk ke dalam warung dan tidur, belum sempat mendapatkan mimpi yang
indah, Tholo membangunkanku untuk segera bergegas menuju truck yang telah
datang. Dengan agak sempoyongan karena baru bangun tidur aku berlari dan
mengangkat carrier naik ke atas truck, demikian juga aku, Tholo, Ngomple dan
Mbelek pun bergegas naik ke atas truck yang saat itu nampat tak ingin terlalu
lama berhenti di satu tempat. Yuuppiiii…..Let’s Go!!!!!!
Perjalanan diwarnai orang-orang yang naik
turun dari truck silih berganti. Tak terasa sudah tiba saat perut kami memohon
mohon untuk diisi. Warung makan adalah target operasi kami begitu kami turun
dari truck. Dan seketika setelah tiba didekat jalan raya, kami turun dari truck
dan kami melihat gerobak jualan dengan tulisan “ KUPAT TAHU “ Hmmm..yummy…Gile, begitu
turun langsung ketemu yang dicari. Dengan tanpa mikir lagi, kami langsung
meng-eksekusi warung itu, memasukkan carrier ke dalam halaman warung, carrier
ditata rapi sebab setelah makan, kami bermaksud menitipkan carrier disana agar
pergerakan kami menuju tebing 48 tidak terganggu beban. Sekali lagi kenyataan
tidak seindah harapan dan bayangan dalam kepala kami, ternyata kupat tahu yang
kami idam-idamkan sudah habis terjual semua. “Hiikss…hiiiikksss….hhuaaaa….” Dengan
sedikit kecewa namun tetap ceria (cieilah) kami pun berpamitan dan meminta maaf
dengan pemilik warung menuju target operasi warung nasi yang masih jualan ..!!!
Akhirnya kami pun makan di warung nasi, tempat biasa anak Astacala membeli
makan saat manjat di tebing 48. Kenyang sudah perut ini, setelah memasukkan dan
menata carrier di dalam warung, kami menuju tebing 48. Karena tidak sempat
merasakan manjat di tebing 48, setidaknya kawan-kawan dari Mapasadha ingin
melihat dari dekat tebing yang sudah diakuisisi oleh Kopasus itu. Kami sampai
dibawah tebing saat hari sudah cukup
sore menjelang malam, namun masih cukup terang untuk melihat tebing dengan
jelas dan melakukan beberapa dokumentasi baik secara photography maupun
recorder.Tholo yang penasaran dengan TOP dari tebing 48, setelah kuberi tahu jalan
menuju TOP segera menuju TOP yang terdapat monument pisau komando itu bersama
dengan Mbelek.
Tidak
terasa jam dindingku sudah menunjukkan pukul 11.52. Padahal jari jemari ini
masih ingin mengetik namun tugas untuk melakukan perwalian dan registrasi memaksaku
untuk segera menghentikan tulisan ini sementara. Dengan ditemani tembang dari
steven dan coconouts tree aku mengakhiri sejenak tulisan ini.
Kembali
aku memainkan jemariku diatas keyboard ditemani dengan lantunan musik mas Ari
Lasso, saat ini pukul 20.10
Malam sudah mulai menyapa kami, dan kilauan
lampul mobil di jalan raya menghiasi pemandangan dari atas tebing. Kami lantas
bergegas menuju warung nasi tadi untuk mengambil carrier. Setelah berpamitan
dengan ibu warung, kami berempat naik bis menuju Bandung dengan ongkos Rp.5000/orang namun
bedanya kali in bis-nya ber-AC. Sekitar dua jam waktu perjalanan akhirnya kami
sampai juga di sekretariat Astacala. Makan lalu beristirahat.
Jumat,
27 Juli 2007
Tenaga yang lumayan terkuras saat
penelusuran membuat waktu tidur sangat nyaman. Hari ini diisi dengan menyiapkan
logistik dan peralatan untuk pendakian menuju G.Ciremai esok hari.
Sabtu,
28 Juli 2007
Pagi hari terasa begitu amburadul buatku.
Packing telat dan aku merasa pergerakan kami agak terlambat hari ini. Setelah
naik angkot cicahem-ciwastra, kami turun di ahmad yani dan ganti angkot jurusan
panghegar. Hari sudah agak sore saat kami tiba di terminal Cicahem. Sekitar 10 menit menunggu di depan terminal,
kami pun naik bis menuju Cirebon. Sekitar 3 jam perjalan kami menuju terminal Cirebon. Kira-kira pukul 22.00 kami tiba di
terminal Cirebon. Sambil makan kupat kami sedikit melakukan negosiasi dengan supir angkot untuk
mengantarkan kami ke pos pendakian di Palutungan. Harga disepakati Rp 25.000/orang.
Kami pun bergerak menuju pos Palutungan melintasi gelapnya malam kota Cirebon menuju desa Cisantana, Palutungan. Tengah malam kami sampai di pos Palutungan
dengan ketinggian 1100 mdpl, kami disambut oleh sorang pemuda yang mengaku
penjaga pos, tidak lama kemudian seorang bapak datang pula menghampiri kami.
Malam itu kami meminta izin mendaki esok hari, ternyata G.Ciremai lagi ditutup
untuk pendakian karena sedang dilakukan pemekaran untuk dijadikan Taman
Nasional. Pendakian boleh dilakukan bila ada guide yang mengantar kami, tentu
saja hal itu kami tolak dengan halus. Akhirnya setelah ngobrol dan kembali nego
serta memberitahu bahwa kami membawa peralatan yang memadai untuk melakukan
pendakian yang aman, dimana kami membawa alat-alat navigasi (peta, kompas, dan
GPS) dan komunikasi (sebuah HT) mereka mengijinkan kami melakukan pendakian,
namun tidak bertanggung jawab atas keselamatan kami. Setelah mendapatkan ijin,
kami pun berpamitan untuk menuju pos dan beristirahat. Bongkar-bongkar,
masak-masak dan makan tengah malam. Entah jam berapa kami tidur malam itu, tapi
yang pasti suara alunan nada dari radio terus menemani kami hingga esok hari.
Minggu,
29 Juli 2007
Bangun pagi-pagi terasa ada yang ingin
dikeluarkan. Lokasi pos palutungan yang nota bene adalah di sebuah desa membuat
kami yang ingin ritual pagi di WC alam sangat sulit, sedangkan WC umum yang ada
sungguh menjijay kan, Iyaakss…!!! Mungkin karena G.Ciremai lagi ditutup sehingga WC tersebut tidak
dirawat kebersihannya. Alhasil setelah melihat peta dan mengetahui letak mesjid
terdekat, aku pun bergegas, cepat-cepat mencari mesjid, tepatnya mencari WC
yang biasanya ada di mesjid, hehehee… Jalan kupercepat karena perut ini sudah
hampir tak kuasa lagi menahan tekanan yang ada. Puji Tuhan, mesjid yang kucari
perlan-lahan tampak di depan mataku, tapiiii…..nampak sepi dan sunyi, tidak ada
bangunan yang menyerupai WC ataupun tempat wudhu. Aku tidak putus asa, aku
yakin di dekat mesjid pasti ada tempat wudhu dan pasti ada WC, aku berkeliling
ke belakang rumah yang berada tidak jauh dari mesjid dan aku melihat bak air
yang berisi air yang sangat berlimpah…Mataku lansung iba…sebab tidak ada WC
disana. Belum juga percaya dengan penglihatanku yang memang sudah tidak begitu
bagus, aku kembali ke mesjid dan kembali mengamati kalau kalau ada yang
terlewati dari mataku. Tidak ada…!!! Sial…!!!aku sudah tidak tahan lagi, kalau
harus mencari tempat lain atau kembali ke pos dan mengambil golok, tissu dan
harus mencari lokasi lagi, aku rasa itu tidak akan sempat. Isi perut ini sudah
meronta-ronta minta dikeluarkan, kakiku terasa bergetar dan badanku tidak dapat
berdiri tegap, keringat dingin sudah..!!! dengan tanpa mikir lagi aku
memutuskan untuk menumpang saja di rumah ini daripada nanti urusannya lebih
repot. Dengan keberanian yang bulat dan tidak ada rasa malu yang harus aku
miliki, aku mengetok pintu dengan tidak sabar. Sesosok ibu berjilbab melihatku
dari dalam dan berkata, “Dari samping saja neng..” Lantas pintu samping rumah
dibuka dan seakan ibu itu sudah mengerti maksud hatiku, tanpa harus menjelaskan
panjang lebar, aku langsung to the point ingin numpang WC dan si ibu
menunjukkan sebuah pintu dekat dengan pintu samping. Oh yeesss….!!!!! Ini dia
yang kucari dan kudambakan..!!! WC dengan air yang berlimpah. Tuhan, terimakasih
atas akhir yang indah ini. Hiks….sungguh aku terharu…
Puass….!!! Dunia terasa lebih indah
sekarang..!! Setelah keluar dari WC, aku berkenalan dengan ibu yang baik itu,
ibu nining namanya. Ternyata setelah kami ngobrol, si ibu ngaku kalau sudah sejak
tadi dia memperhatikan aku dari dalam rumahnya. Tingkahku yang seperti orang
bingung, mondar mandir sekitaran mesjid sambil memegang perut. Duh jadi malu
Bu..!! Kira-kira 5 menit kami ngobrol dan aku disuguhi segelas air hangat.
Tadinya aku juga ditawari sarapan, namun aku tolak dengan pelan. Aku pun
berpamitan dengan ibu nining dan suaminya kembali ke pos dengan wajah yang
riang gembira. Semacam rasa kemenangan ada ditanganku karena aku sudah selesai
memenuhi panggilan pagi hari dengan sempurna. Hahahaa….!!!
Berbeda dengan aku yang dapat memenuhi
panggilan pagi hari di WC rumah penduduk, Tholo bernasib kurang beruntung.
Karena tidak berhasil mendapatkan tumpangan WC, akhirnya senjata andalan yaitu
golok dan tissu yang bekerja. Dengan sedikit memanjat bukit yang entah dimana
posisinya, disanalah Tholo memenuhi panggilan itu.
Sarapan, beres-beres, packing, foto-foto
dan let’s go to the Cigowong, pos I jalur palutungan. Berdasarkan informasi
yang didapatkan dari penduduk, perjalanan ke Cigowong hanya sekitar 2 jam dan
cukup dengan bekal satu botol aqua 600 ml. Perjalanan kami mulai sekitar pukul
11.00. Pergerakan agak santai mengingat target kami adalah Cigowong dan dengan
estimasi waktu yang diperkirakan adalah sekitar 4 jam (dikali 2 dari estimasi
waktu 2 jam dengan pertimbangan beban yang kami bawa). Setelah berjalan cukup
lama dan beristirahat beberapa menit dalam perjalanan kami menemukan pertigaan
dengan marker “Ke Puncak” arah panah ke kiri. Ngomple mengecek ke kiri dan aku
mengecek kearah kanan. Hasilnya, dari arah kiri, jalan menuruni lembah dan
melewati sungai kering lalu naik lagi. Dari arah kanan, jalan lebih landai dan
menuju jalan yang agak terbuka dengan arah yang terus ke kiri. Setelah
dibicarakan, kami memutuskan untuk ke kanan saja. Berjalan beberapa menit kami
sekarang berada di daerah menuju ladang penduduk dan seketika kami merasa “it’s
wrong way..!!” Lalu ditempat yang terbuka, aku dan Ngomple menganalisa
keberadaan kami. Itu bukan masalah buat kami bila ingin mengetahui posisi kami
ada dimana di peta, tapi yang jadi masalah adalah Cigowong tuh ada dimana??pada
koordinat mana?? Secara aku salah nge-print informasi koordinat pos jalur
Palutungan tapi yang ke-print adalah koordinat Pos pos jalur Apuy. Di peta
tidak terdapat sungai dengan nama Cigowong. Aku berinisiatif kembali ke
pertigaan yang bermarker untuk kembali memastikan jalur, ditengah jalan aku
bertemu Tholo dan kami berdua akhirnya kembali ke pertigaan itu dan mengambil
jalan yang ditunjukkan oleh marker. Kira kira sekitar 30 menit aku dan Tholo
berlari mencari jalur, hari semakin gelap dan beberapa kali terdengar suara
peluit dari Ngomple seakan menyuruh semua berkumpul. Tholo percaya Cigowong
masih terus ke atas, namun saat itu aku tidak sependapat dan karena kami sudah
pergi cukup lama, akhirnya kami memutuskan kembali. Waktu menunjukkan sekitar
pukul 16.30, dan kami berempat memutuskan kembali ke pertigaan marker. Disini
kami membuat suatu kesepakatan, Ngomple dan Tholo akan kembali ke jalur yang
ditunjukkan oleh marker mencari lokasi pasti dari Cigowong, tidak masalah jalan
malam bila ternyata Cigowong dapat ditemukan, namun bila tidak ditemukan, kami
akan nge-camp dipertigaan ini dan Mbelek turun ngambil air di Palutungan
(ironis sekali..) Ngomple dan Tholo bergerak sedangkan aku duduk santai sambil
ngobrol dengan Mbelek yang sibuk membuat cobek dari kayu yang ditemukan saat
perjalanan memasuki vegetasi pohon pinus. Selagi menunggu aku mencoba mencari
letak Cigowong di peta dengan menganalisa kontur dan posisi pertigaan yang sudah
aku ketahui, aku menemukan satu daerah yang patut dicurigai sebagai Cigowong,
maka dari sana aku mengambil kesimpulan bahwa Tholo dan Ngomple berhasil
menemukan Cigowong jika mereka terus naik. 30 menit kemudian Ngomple dan Tholo
kembali. Dengan sedikit ngerjain Mbelek, mengatakan tidak menemukan Cigowong,
Mbelek sudah disuruh ngambil air turun ke Palutungan. Hampir saja Mbelek
mengeluarkan dirigen tempat air, akhirnya mereka ngaku telah menemukan
Cigowong.
Setelah puas beristirahat dan menunggu azan
magrib selesai kami pun bergerak menuju Cigowong. Finnally….setelah kira-kira
45 menit berjalan ditengah kegelapan hutan sambil ditemani beberapa
kunang-kunang, kami sampai di pos 1 Cigowong. Mbelek, Tholo dan Ngomple
langsung bergerak mendirikan camp, sedangkan aku langsung membuat air panas dan
memasak nasi. Setelah camp jadi, seluruh pekerjaan
masak memasak makan malam diambil alih oleh Tholo, chef for tonight. Hari itu
makan apa ya? Lupa…hehehehe…untuk pastinya nanti bisa didengar dari kaset
rekaman Tholo yang selalu setia menemani perjalanan kami.
Senin,
30 Juli 2007
Pagi hari…tepatnya pagi menjelang
siang…sekitar pukul 09.00 terlihat Ngomple sudah bangun dan memasak sarapan,
aku dan Tholo masih menikmati hangatnya di dalam SB, sedangkan Mbelek sibuk
membuat api dan membakar sampah-sampah. Sinar matahari masuk menerobos hutan
dan memperlihatkan pemandangan sekitar Cigowong yang tidak dapat kami lihat
kemarin. Pos I ini merupakan tempat dengan dataran yang sangat luas untuk
mendirikan tenda, mungkin cukup untuk 10 tenda, dimana terdapat sungai yang
jernih (Cigowong) sebagai tempat untuk mengambil persediaan air terakhir untuk
perjalanan ke G.Ciremai. Aku bangun dan melihat-lihat sambil sedikit membuka
peta dan menyalakan GPS. Aku ingin kembali memastikan posisi dari Cigowong.
Akhirnya kudapati bahwa daerah di peta yang sebelumnya aku curigai adalah
Cigowong ternyata benar adanya, tapi ada sedikit perbedaan informasi yang aku
dapatkan dari banyak sumber bahwa Cigowong berada pada ketinggian 1450 mdpl, tapi
setelah melihat kontur di peta Cigowong berada pada 1600 mdpl dan memastikan
dengan altimeter pada GPS, Cigowong berada pada ketinggian sekitar 1600 mdpl,
so..?? kalau GPS yang kubawa yang salah karena belum dikalibrasi itu mungkin
saja, tapi tidak mungkin peta salah pada ketinggian konturnya. Aku berpikir
sejenak, kenapa bisa sampai berbeda sampai 150 meter?? Jarak yang sangat
besar..!!! Tentu saja setelah memastikan sendiri, aku lebih percaya pada peta
yang kubawa dibandingkan informasi yang telah ada entah sejak kapan itu dibuat,
bisa jadi setelah bertahun-tahun informasi itu sudah tidak valid karena sudah
banyak terjadi pergeseran bumi atau apalah itu.
Sarapan pun siap, telah tersedia sambel
pecel dengan sayuran rebus, telur dadar dan ikan asin. Mmmmm sambel pecelnya
TOP banget. Saat itu ada sedikit konspirasi yang terjadi. Kemarin terjadi
sebuah kesepakatan antar para lelaki, dimana Mbelek berjanji kepada Tholo dan
Ngomple untuk sarapan pagi ini hanya akan makan creaker oat saja. Akhirnya
untuk memenuhi janji itu, pagi ini Mbelek dengan jiwa yang teguh (sudah dibujuk
Tholo untuk tidak mempertahankan ego dan makan bersama kami) tetap memasak air
panas dan membuat bubur creaker oat rasa ayam jamur. Ngomple sebagi setannya
tetap menagih janji Mbelek. Padahal sarapan sudah dibuat untuk porsi 4 orang,
lagi-lagi Mbelek dikerjain. Setelah makan creaker oat sampai habis, Ngomple
selaku bapak dari Mbelek memberikan hadiah sebuah ampyang (bapak yang aneh).
Ternyata Mbelek termasuk tipe orang yang tabah tapi mutung-an juga. Setelah
kami bertiga selesai makan, lama sudah Tholo ngeledekin dan akhirnya
memberitahu Mbelek bahwa sarapan buat dia masih ada, sebab memang dimasak untuk
porsi 4 orang, tapi susah juga membujuk Mbelek. Tapi karena pada dasarnya porsi
makan Mbelek tidak mungkin hanya makan semangkok kecil bubur creaker oat dan
satu potong ampyang, akhirnya Mbelek luluh juga dibujuk Tholo untuk makan.
Repot juga kalo Mbelek tidak mau makan, bisa-bisa tenaga Mbelek jadi loss power
dan kami bisa kehilangan porter handal. Hehehehe…
Packing selesai, semua orang membawa full
tank water 5 liter untuk perjalanan menuju puncak sampai turun ke Pos I
Linggarjati Cibunar. Total persediaan kami adalah 20 liter. Setelah melihat
peta dan jalur, kami pun berangkat menuju Pos berikutnya Paguyangan Badak
dengan target ke pos 3, Blok Arban. Pergerakan waktu itu cukup siang, kira-kira
sekitar pukul 13.00. Kami berjalan cukup lama hingga akhrnya kami menemukan
simpang, setelah berorientasi, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tholo dan
Mbelek lalu disusul aku lalu Ngomple. Selagi berjalan aku merasakan ada yang
aneh, G.Ciremai terletak di sebelah utara, namun kami terus berjalan ke Barat
dan semakin lama semakin ke Barat. Ditambah lagi jalan tidak lagi mendaki
melainkan menurun. Something’s wrong..!!! aku memutuskan berhenti dan melakukan
track posisi GPS. Ngomple ternyata juga merasakan hal yang sama. Ternyata
setelah berorientasi dan mem-plot koordinat dari hasil tangkapan satelit GPS,
kami memang terlalu melenceng ke Barat. Well, keputusan tidak dapat langsung
diambil saat itu sebab Tholo dan Mbelek berada jauh di depan. Aku dan Ngomple
terus turun mengikuti jalan dan akhirnya bertemu dengan Tholo dan Mbelek yang
saat itu lagi duduk. Ternyata disana terdapat sebuah kuburan yang dikeramatkan,
disana juga terdapat gapura pintu masuk menuju kuburan tersebut. Hari sudah
semakin gelap, malam sudah mulai menyapa kami. Tholo orang yang sangat optimis,
dia masih memiliki keyakinan bahwa ini jalan yang benar dan akan terus berjalan
mengikuti jalan, sebab untuk kembali ke jalan yang tadi adalah pekerjaan yang
membuat malas semua orang. Target adalah mencari tempat camp sebab
sebentar lagi matahari akan berpamitan pada kami. Setelah berjalan cukup jauh,
tidak kami temukan tempat yang memadai untuk mendirikan camp, maka
dieksekusilah sebuah tempat ditengah jalan untuk diratakan dan diperluas agar
flysheet merah itu dapat berdiri. Jadilah kami nge-camp ditengah jalan pada
malam itu.
Tholo kembali menjadi chef, sedangkan
Ngomple mengaktifkan HT dan mencoba berhubungan dengan frekuensi yang diberikan
oleh penjaga pos Palutungan. Karena tidak dapat nyambung, dicoba frekuensi yang
lain dan ternyata ada yang sampai ke Sumedang. Alhasil mencoba mencari
informasi dari HT pun dihentikan dan kami berempat makan malam lalu tidur, saat
itu bulan bersinar terang menyinari camp.
Selasa,
31 Juli 2007
Pagi hari yang malas…Rasanya malas sekali
bergerak…Kira-kira pukul 10.00 baru melakukan pergerakan di camp. Tholo memasak
dibantu oleh Mbelek, sedangakan Ngomple turun untuk mengecek jalur. Waktu itu
aku ngapain ya?? Beberapa saat kemudian Ngomple kembali dan ternyata dibawah
ada pos II Simpang Lima jalur Apuy. Haaahh…?? Wah kita melenceng ke jalur apuy.
Tapi menurut Ngomple, jalur nya mengarah kearah camp, dan itu artinya jalan
balik. Seperti biasa, Tholo yang selalu optimis tidak percaya kalau harus
kembali ke jalan yang sama. Mereka, Ngomple, Mbelek dan Tholo kembali mengecek
jalur dan akhirnya menetemukan jalur pendakian. Setelah makan kami pun
beres-beres dan packing. Tapi entah kenapa hari itu rasanya malas bergerak.
Packing satu barang, trus duduk ngobrol, ngarokok dan ngemil. Kira kira pukul
14.00 baru kami bergerak menuju jalur pendakian yang tadi ditemukan. Sungguh
pergerakan yang santai, wakakakakaa..
Ternyata benar, jalur pendakian yang kami
temukan itu adalah jalur Apuy sebab disepanjang perjalanan kami melewati
pos-pos jalur Apuy yaitu Tegal Wasawa, Tegal Jamuju, dan Saghyang Rangkah. Di
Saghyang Rangkah kami memutuskan untuk mendirikan camp, saat itu waktu sudah
menunjukkan sekitar pukul 20.00 Tidak disangka kami melenceng ke jalur Apuy dan
informasi koordinat yang tadinya salah print jadi berguna dalam perjalan ini.
Malam ini, aku dan Ngomple yang memasak makan malam. Di luar camp, Mbelek sudah
membuat api unggun yang lumayan besar. Makan malam dan tidur ditengah dinginnya
malam saat itu yang marasuk hingga ke dalam SB yang malam ini menjadi tidak
seberapa hangat. Tentu saja malam menjadi sangat dingin, sebab kami sudah
berada diketinggian yang cukup tinggi dan esok hari kami akan melakukan
perjalanan ke puncak Ciremai
Rabu,
01 Agustus 2007 (“Muncak euy..!!")
Kami akan melakukan pergerakan lebih awal
sebab kami tidak ingin kemaleman sampai puncak. Heran juga, meskipun rasanya
sudah mempercepat pergerakan, tapi camp selesai dibongkar dan
packing selesai adalah sekitar pukul 11.00. Ditambah lagi ada satu peristiwa
dimana air yang dipacking Ngomple bocor, jadinya dia membongkar packingan lagi
dan menjemur SB, baju dan dalaman yang basah terkena air. Huahahahaa….jadilah
kami menunda pergerakan hingga sekitar pukul 12.00
Saat itu persediaan air tinggal 10 liter,
dan seperti yang sudah diprediksikan, Mbelek sang porter handal tetap membawa
full tank water 5 liter (sungguh mulia) 5 liter sisanya dibagi menjadi beberapa
botol 600 ml. Maka dimulailah pergerakan dengan target operasi adalah puncak
G.Ceremai. Seperti biasa, jalan menuju puncak sudah sangat nge-track. Setelah
memasuki vegetasi cantigi suasana gersang, terik dan panas matahari menemani
disetiap langkah satu demi satu. Sesekali dan berkali kali aku duduk untuk
beristirahat dan kulihat sebuah pemandangan yang indah, sebuah hasil karya
agung “Bos besar di atas sana” Oke, tidak boleh berlama lama duduk disini,
Mbelek dan Tholo sudah jauh di depan, dan tidak enak juga dengan Ngomple yang
di belakangku nungguin, padahal dia termasuk tipe cowok-cowok pedaki pada
umumnya (suka berjalan cepat), kalau terus berhenti nungguin aku pasti akan
terasa lebih capek buat dia (disuruh jalan deluan gk mau sihh…) Hehehe,
akhirnya terus melangkah dan melangkah…sampai juga di pertigaan jalur Apuy dan
Palutungan. Jalan lagi, nge-track lagi…dan sampai juga kami di Goa Walet,
disana kami berkumpul lagi dengan Mbelek dan Tholo. Untuk mencapai Goa Walet
harus turun dari jalur pendakian sekitar 40 meter. Setelah meletakkan carrier,
aku bergegas ke bawah. Tholo dan Mbelek nampak sudah puas bermain-main di goa
lebih memilih menunggu dijalur pendakian bersama Ngomple. Entrance goa Walet
cukup besar namun tidak panjang, sejujurnya aku tidak sempat masuk lebih dalam
ke Goa karena tidak memiliki peralatan
pendukung seperti senter dan helm. Di sekitar goa terdapat dataran yang cukup
luas dan terdapat banyak sekali arbei hutan.
Time to go…!!! Ketinggian waktu itu adalah
sekitar 2850 meter dan sebentar lagi puncak akan kami raih. Oyeeehh….Dan
akhirnya penantian itu pun datang…Puncak Ciremai kami datangg….!!! Aku tiba di
puncak sekitar pukul 16.00 dan disana angin berhembus sangat kencang…dipuncak
kami dapat memandang dua buah kawah dan pemandangan kota Cirebon, dan pucuk
pucuk gunung menjulang di sebelah selatan, di bagian Timur tampak puncak G.
Slamet. Cool..!!! Setelah puas foto-foto dan nye-nack, kami pun mencari jalur
turun ke Linggarjati. Oh ya, Puncak yang kami taklukkan adalah puncak 3 dan
puncak 2, sedangkan puncak 1 tidak kami raih karena faktor waktu yang sudah
menjelang malam, pukul 17.00 memaksa kami untuk segera turun ke titik yang
lebih aman dan baik untuk mendirikan camp.
Setelah memastikan jalur yang menuju desa
Linggarjati, kami menuruni jalan yang sangat terjal, meskipun kami sudah keluar
dari vegetasi cantigi dan mulai memasuki hutan, jalan yang sangat terjal terus
menemani kami. Setelah cukup jauh dan malam sudah semakin dingin, akhirnya kami
mendirikan camp di sebuah tanah yang cukup luas dan datar, tampat itu bukanlah
sebuah pos, namun tempat ini kerap dijadikan tempat beristirahat sebab banyak
sekali sampah yang menghiasi tempat tersebut. Kira-kira pukul 20.00 kami
mendirikan camp, masak dan membuat api. Chef adalah Tholo again dibantu dikit
oleh aku. Ngomple sudah tidur dan Mbelek tetap bersama api buatannya. Malam
yang sunyi, namun sedikit terobati oleh dentuman lagu dari radio yang tidak
pernah lelah mengusir kesunyian yang senyap saat kami berada di camp. Malam itu
nampak garing, mungkin karena capek, malam itu terasa lebih kalem dari
malam-malam sebelumnya. Pukul 00.00, masakan telah tersedia …akhirnya makan
juga…
Kamis,
02 Agustus (Goes to Linggarjati…!!!)
Pukul 12.30 pergerakan menuju desa
Linggarjati. Rencananya kami berharap dapat bangun lebih pagi dan bergerak
lebih pagi sehingga kami dapat ke Bandung
hari ini, namun seperti yang telah menjadi kebiasaan, siang hari ternyata lebih
nyaman melakukan pergerakan (huahahahaa). Jalur Linggarjati sungguh jalur yang
sangat curam, sepanjang jalur adalah jalur yang edan..!!! gk ada mulus
mulusnya, jalur batu batuan besar dengan tanah yang miring, akar kayu yang
menyerupai tangga menghiasi jalur Linggarjati, otomatis pergerakan turun harus
lebih hati-hati. Jalur turun seperti ini sungguh membuat kaki sakit karena
pegel…!!! Tidak terasa hari mulai sore dan perut sudah kembali meronta ronta
minta diisi. Sekitar pukul 17.00 kami sampai di Pos I Cibunar. Banyak air
melimpah kami manfaatkan untuk bersih-bersih dan gosok gigi (karena hemat air,
sejak dari Cigowong tidak pernah gosok gigi, iyaakss…!!!) Bongkar-bongkar, trus
masak mie 5 bungkus…lumayan untuk mengganjal rasa lapar.
Selepas azan Magrib kami melanjutkan
perjalanan ke desa Linggarjati, beberapa saat kemudian kami tiba di desa Linggarjati.
Disana kami memutuskan menginap di sebuah warung, Pak Saman nama pemilik warung
itu. Kami diperbolehkan tidur di Musolah dekat warung, disana juga terdapat 2
WC dan 2 kamar mandi. Setelah puas ngobrol dengan Pak Saman, Mbelek memesan
makan malam untuk kami berempat. Karena diserang rasa kantuk yang sangat kuat,
aku tidur deluan. Entah jam berapa aku terbangun dan sayup-sayup terdengar
suara Tholo lagi menelepon seseorang, entah siapa, tapi yang pasti cewek sebab
sesekali terdengar sedikit rayuan gombal. Kwakakakaa…pengen nge-godain tapi
rasa kantuk ini lebih menarik jadi aku memilih tidur saja dan membiarkan Tholo
untuk lebih bisa berekspresi. Semangat ya Thol..!!!
Jumat,
03 Agustus 2007
Selamat pagiii desa Linggarjati…!!!! Mandi
mandi, trus packing dan sarapan..Pukul 10.00 kami pamit dengan Pak Saman dan
istri menuju museum Linggarjati. Museum Linggarjati terletak tidak jauh dari
warung Pak Saman, berjalan kira-kira 5 menit kami pun sampai di museum yang
terkenal itu. Bangunannya terawatt dan bersih, lumayan menambah pengetahuan
sejarah yang sudah keropos ini.
Puas menikmati peninggalan sejarah, kami
segera bergerak menuju Cilimus. Menurut penduduk disana, dari Cilimus juga
terdapat bis yang menuju Bandung. Dari desa Linggarjati terlihat G.Ceremai yang menjulang tinggi, hari sangat
cerah dengan langit yang biru memperlihatkan keindahan dan kegagahan G.Ceremai.
Selamat tinggal G. Ciremai…!! Angkot membawa kami ke terminal Cilimus dan dari sana kami mengisi perut lagi, kupat tahu, sambil menunggu
bis yang menuju Bandung. Menunggu cukup lama di warung kupat tahu, akhirnya bis ke Bandung
yang emang jarang muncul di Cilimus itu tidak datang juga, kami putuskan untuk
ke Cirebon, dari sana baru ke Bandung.
Dari Cirebon naek bis AC-ekonomi ongkos Rp
20.000, kami dianter sampai di perempatan Jl. Buah batu dengan Jl.Pelajar
Pejuang. Hari itu sudah beranjak malam, rasa lelah menyelimuti seluruh badan.
Sampai di sekre, makan lalu langsung tidur.
Sabtu,
04 Agustus 2007
Entah pukul berapa Mbelek dan Tholo bangun
dan segera mempacking peralatan mereka untuk segera bersiap menuju stasiun
Kiaracondong menuju Jogja, sedangkan Ngomple tidak tidur. Aku berencana ikut ke
Jogja, sebenarnya malaaasss….banget, tapi berhubung sudah janjian sama Ayis
yang sudah berada di Jogja, ya aku berangkat juga deh…dengan susah payah dan
apa adanya, aku pun packing seadanya trus jam 05.00 kami berempat ke Jogja.
Huaaa…..alat alat belum sempat di cuci, thanks to Ngomple dah mau bantu nyuciin
trangia ma nisting. Barang yang laen, nyucinya aku pending aja
dulu..Hehehe..Jogja..I’m coming..!!!
Dari sini, berakhirlah perjalananku bersama
tiga kawan dari Mapasadha.
Untuk semuanya, …Arrigatto..
-The end-
November 17th, 2008 at 9:49 pm
nah…. ini yg rhe maksud siap difilmin.
^-^
January 23rd, 2009 at 11:17 pm
hai Rhe..salam kenal balik yach…
Makasih commentnya..makasih dah baca cerita diatas..dipikirkan deh..untuk hal “itu” hehehe…maaf ya, agak susah buka FS skrg jadi lama balasnya